Kuningan, rajawalinews.online – Sejumlah atlet berprestasi di Kabupaten Kuningan mengeluhkan belum diterimanya gaji mereka selama enam hingga tujuh bulan terakhir. Persoalan ini mencuat dalam pertemuan antara para atlet dengan Bupati Kuningan, Dr. Agus Toyib, S.Sos., M.Si., yang didampingi beberapa pengurus KONI Kuningan, termasuk Wakil Ketua I Bidang Organisasi Aan Suganda, Wakil Ketua II Bidang Prestasi Jaka Khaerul, Ketua Harian KONI Enay Sunaryo, serta Ketua Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kuningan, Eva Nurafifah Letief.
Dalam pertemuan tersebut, para atlet menyampaikan langsung keluhannya kepada Bupati Kuningan terkait gaji yang belum dibayarkan serta minimnya dukungan persiapan untuk Babak Kualifikasi (BK) Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). “Kami menghadap bukan atas nama KONI, melainkan sebagai atlet yang menyampaikan aspirasi kami. Hingga saat ini, persiapan latihan untuk BK Porprov belum mendapatkan dukungan apa pun. Kami hanya ingin menyelamatkan atlet-atlet potensial peraih medali,” ujar Eva Nurafifah Letief.
Menanggapi persoalan tersebut, Wakil Ketua Pekat IB Kabupaten Kuningan, Donny Sigakole, turut angkat bicara. Menurutnya, beberapa atlet telah melaporkan langsung kondisi mereka kepadanya. “Dari laporan yang saya terima, ada sekitar 17 atlet yang belum menerima gaji sejak Oktober 2024, dengan besaran gaji berkisar antara Rp.1,7 juta hingga Rp2,5 juta per bulan. Mereka merasa ditelantarkan karena Ketua KONI Kuningan sulit dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya,” ungkap Donny.
Donny mengaku telah mengonfirmasi persoalan ini kepada Bupati Kuningan melalui pesan WhatsApp. Bupati pun dikabarkan terkejut mengetahui kondisi para atlet. Donny juga mencoba menghubungi Sekretaris KONI Kuningan, Agus Mauludin, untuk meminta klarifikasi. “Pak Agus menyampaikan bahwa Ketua KONI tidak menghilang dan masih memimpin rapat pekan lalu. Namun, saat saya tanyakan mengenai keterlambatan gaji atlet, jawabannya adalah karena pengajuan anggaran hibah dari APBD Kuningan sebesar Rp.1,2 miliar tidak disetujui,” jelasnya.
Lebih lanjut, Donny mempertanyakan penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank BJB serta sumber pendanaan pembangunan gedung KONI yang kini mangkrak. Namun, Agus Mauludin mengaku tidak mengetahui secara pasti karena masih menunggu hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Aneh rasanya jika seorang sekretaris tidak mengetahui laporan keuangan dan penggunaan anggaran KONI. Seharusnya saat serah terima jabatan ada laporan keuangan yang jelas,” tegas Donny.
Salah satu atlet yang enggan disebutkan namanya juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap pembangunan gedung KONI yang hingga kini mangkrak. “Selama ini kantor KONI di Stadion Mashud Wisnusaputra masih layak digunakan. Kenapa harus membangun gedung baru yang akhirnya malah terbengkalai? Akibatnya, kami, para atlet, menjadi korban karena anggaran seolah dialihkan ke sana,” ungkapnya.
Meski demikian, ada titik terang dalam permasalahan ini. Donny mengapresiasi langkah cepat Bupati Kuningan yang telah memberikan solusi awal untuk memastikan para atlet dapat menerima sebagian hak mereka sebelum Hari Raya Idulfitri. “Alhamdulillah, para atlet sudah diterima langsung oleh Bupati dan telah diberikan solusi agar mereka bisa merayakan Idulfitri dengan lebih tenang,” pungkasnya.
Kasus ini masih menjadi perhatian publik, terutama di media sosial, di mana banyak warganet mengkritik pengelolaan anggaran di KONI Kuningan. Masyarakat berharap ada transparansi dalam penggunaan dana dan kepastian nasib para atlet yang telah mengharumkan nama Kuningan di berbagai ajang olahraga. (GUNTUR – Kaperwil Jabar)


