Kuningan, Rajawalinews.online – Jika Episode pertama berbicara tentang karakter batuan, maka Episode kedua mengajak melihat apa yang tersembunyi di bawah permukaan kawasan Arunika—bagian yang jarang terlihat, tetapi justru menentukan tingkat risiko.
Peta geologi Gunung Ciremai memperlihatkan keberadaan struktur patahan dan rekahan batuan di wilayah lereng, termasuk kawasan sekitar Cisantana. Struktur ini bisa berupa sesar geser, sesar naik, maupun sesar tertutup (buried fault) yang tidak selalu tampak secara kasat mata.
Secara geologi, keberadaan patahan menunjukkan bahwa lapisan batuan di bawah permukaan tidak homogen. Terdapat bidang lemah yang menjadi jalur alami pergerakan tanah dan air. Ketika lereng dengan kondisi seperti ini mengalami perubahan bentang alam—pemotongan kontur, pembuatan teras, atau penambahan beban bangunan—risikonya tidak selalu langsung terlihat.
Selain struktur patahan, peta panas bumi Ciremai juga menandai jalur aliran air bawah tanah dan keberadaan mata air. Ini menegaskan bahwa kawasan Arunika berada di wilayah dengan aktivitas hidrogeologi tinggi. Air hujan tidak hanya mengalir di permukaan, tetapi juga meresap ke dalam tanah melalui rekahan batuan vulkanik.
Dalam kondisi tertentu, air yang terperangkap di dalam tanah dapat meningkatkan tekanan pori, melemahkan daya ikat antar butiran tanah, dan memicu pergerakan lereng. Proses ini kerap berlangsung perlahan dan baru terasa setelah beberapa musim hujan, sehingga sering luput dari perhatian awal.
Di sinilah peta geologi berperan penting. Ia tidak memprediksi bencana secara pasti, tetapi menunjukkan mekanisme alamiah yang berpotensi bekerja di bawah kawasan wisata yang tampak stabil di permukaan. (GUNTUR – Kaperwil – Jabar)


