Kuningan, Rajawalinews.online – Ratusan siswa SMA Negeri 1 Luragung mengalami gejala keracunan massal setelah menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis sore, 2 Oktober 2025. Insiden itu berawal sekitar pukul 16.30 WIB, ketika siswa yang baru pulang dari kegiatan belajar mulai mengeluhkan mual dan pusing usai menyantap menu makan MBG yang dibagikan di sekolah.
Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 19.00 WIB, keluhan meningkat menjadi muntah dan diare. Puluhan siswa akhirnya dilarikan ke Puskesmas Luragung dan RS. KMC karena gejala semakin berat. Hingga Jumat (3/10) pagi, jumlah siswa yang terdampak dilaporkan mencapai lebih dari 80 orang, dan sebagian masih harus menjalani observasi medis.
Berdasarkan keterangan para siswa, menu yang disajikan pada hari kejadian adalah ayam kecap, tahu, tempe, acar, dan buah anggur. Namun, banyak siswa menuturkan bahwa lauk ayam kecap terasa berlendir, berbau aneh, dan tampak tidak segar.
“Rasanya agak aneh, kuahnya kaya berlendir seperti sudah basi. Banyak teman juga merasa mual setelah makan itu,” ujar salah seorang siswa kelas XI yang enggan disebut namanya.
Keterangan ini sejalan dengan pernyataan Gugum, pengelola Dapur MBG Luragung landeuh, yang menjadi penyuplai makanan untuk sekitar 4.000 siswa di wilayah Luragung, termasuk SMA, SMK, dan SMP.
“Banyak siswa mengatakan menu kuah ayam kecap terasa berlendir dan berbau. Kemungkinan besar dari situ sumbernya, tapi kami tetap menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” jelas Gugum saat ditemui awak media Jumat (3/10).
Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan juga telah mengambil langkah cepat dengan mengirimkan sampel makanan, muntahan, serta feses siswa ke laboratorium untuk dilakukan uji toksikologi dan mikrobiologi. Langkah ini dilakukan guna memastikan sumber cemaran yang menyebabkan gejala massal tersebut.
Kepala Puskesmas Luragung, dr. Nanay Handayani, menegaskan bahwa indikasi awal memang kuat menunjukkan adanya kontaminasi dari bahan makanan.
“Berdasarkan observasi medis, gejalanya mirip keracunan makanan. Indikasi awal mengarah pada lauk ayam kecap, tapi konfirmasi final menunggu hasil uji laboratorium,” katanya.
Tim Inafis Polres Kuningan turut diterjunkan untuk melakukan pengambilan sampel, dokumentasi lokasi dapur, serta pemeriksaan terhadap sejumlah pekerja dapur MBG. Polisi juga menelusuri rantai distribusi makanan sejak proses pengolahan hingga ke sekolah-sekolah penerima guna memastikan titik awal kontaminasi.
Sementara itu, Bupati Kuningan, H. Dian Rachmat Yanuar, telah memerintahkan penghentian sementara dapur MBG Luragung landeuh selama satu minggu penuh. Distribusi makanan untuk sekolah-sekolah terdampak dialihkan ke dapur MBG lain yang dinilai memenuhi standar kebersihan dan penyimpanan bahan pangan yang lebih baik.
Kasus ini kini masih dalam penyelidikan terpadu antara Dinas Kesehatan, Polres Kuningan, dan TP-PKK Kabupaten Kuningan yang selama ini terlibat dalam program MBG. Hasil uji laboratorium diharapkan keluar dalam waktu dekat untuk memastikan sumber pasti penyebab keracunan massal tersebut. (GUNTUR – Kaperwil Jabar)


