Kupang, NTT — Dugaan bunuh diri seorang siswa Sekolah Dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat tak mampu membeli alat tulis menjadi alarm keras bagi negara. Tragedi ini bukan sekadar peristiwa individual, melainkan cermin buram kegagalan sistem pendidikan dan pengelolaan anggaran di daerah.
Ali Sofyan, relawan pembela Prabowo Subianto, menyebut peristiwa memilukan ini sebagai ujian nyata bagi pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan Provinsi NTT. Ia menegaskan, negara tidak boleh tutup mata ketika anak-anak miskin harus menanggung beban ekonomi yang seharusnya ditanggung negara.
“Ini ujian serius bagi pemerintah. Jangan cuma pintar merampok Dana BOS, tapi salurkanlah ke anak didik yang benar-benar tidak mampu secara ekonomi,” tegas Ali Sofyan dalam pernyataannya.
Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sejatinya dirancang untuk menjamin kebutuhan dasar pendidikan, termasuk alat tulis, buku, dan perlengkapan belajar siswa kurang mampu. Namun fakta di lapangan justru menunjukkan paradoks: anggaran ada, tetapi anak didik tetap terpinggirkan.
Ali Sofyan mempertanyakan fungsi pengawasan dan distribusi Dana BOS di NTT. Ia menduga adanya praktik penyimpangan, pembiaran, atau ketidakpekaan struktural yang membuat hak-hak siswa miskin tidak tersentuh.
“Kalau sampai ada anak SD tidak punya alat tulis, lalu memilih mengakhiri hidupnya, itu bukan salah anaknya. Itu kegagalan sistem. Kegagalan negara,” ujarnya.
Kasus ini memunculkan pertanyaan serius:
Ke mana aliran Dana BOS selama ini?
Apakah pendataan siswa miskin benar-benar dilakukan?
Di mana peran kepala sekolah, dinas pendidikan, dan pengawas?
Ali Sofyan mendesak audit menyeluruh Dana BOS di NTT, serta penindakan tegas terhadap oknum yang diduga menjadikan anggaran pendidikan sebagai ladang bancakan.
Ia juga meminta pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pendidikan, untuk turun tangan langsung, tidak sekadar menerima laporan administratif yang sering kali tak mencerminkan realitas di lapangan.
“Pendidikan bukan soal laporan rapi dan angka-angka. Pendidikan adalah soal anak-anak yang seharusnya belajar dengan layak, bukan mati dalam keputusasaan,” tutupnya.
Tragedi ini kini menjadi catatan hitam dunia pendidikan Indonesia, sekaligus pengingat bahwa anggaran besar tanpa empati dan pengawasan hanya akan melahirkan korban baru — anak-anak yang seharusnya dilindungi negara.


