Selasa, April 21, 2026
spot_img

Gila! Uang Rp.33,8 Miliar Melayang, 19,9 Juta Kantong Pupuk Urea Busuk di Gudang PT. PUSRI Tanpa Pertanggung Jawaban

Palembang, rajawalinews.online – Persediaan kantong pupuk urea kemasan 1 kg, 5 kg, dan 10 kg yang seharusnya digunakan untuk distribusi pupuk retail ternyata justru menumpuk di gudang PT.Pusri Palembang (PT.PSP) sejak 2019. Berdasarkan hasil audit dan observasi, hingga 31 Agustus 2022, sebanyak 19.932.157 lembar kantong senilai Rp.33,8 miliar belum dimanfaatkan secara optimal.

Dari hasil investigasi, kantong-kantong tersebut diadakan antara tahun 2016 hingga 2018 berdasarkan dokumen Business Plan Produk Ritel dan Pusri Mart PT.Pusri Palembang 2017. Namun, perencanaan pengadaan dinilai cacat karena tidak disertai strategi pemasaran yang jelas. Tidak ada tahapan distribusi, tidak ada proyeksi kebutuhan awal, dan tidak ada perhitungan mengenai daya serap pasar. Akibatnya, stok kantong terus menumpuk tanpa pergerakan yang signifikan.

Lebih parah lagi, sejak tahun 2020 hingga Semester I 2022, kantong kemasan 5 kg dan 10 kg tidak mengalami pergerakan sama sekali (no moving stock). Bahkan, dari total persediaan sejak 2019, hanya sekitar 2-5% yang keluar dari gudang, menunjukkan minimnya penyerapan pasar.

Hal ini menunjukkan bahwa keputusan pengadaan kantong dalam jumlah besar tidak didasarkan pada data yang akurat, melainkan sekadar asumsi tanpa kajian mendalam. Bagaimana mungkin stok sebesar itu dibiarkan menumpuk bertahun-tahun tanpa ada langkah konkret untuk mengatasinya?

Observasi di lapangan juga menemukan masa edar kantong pupuk urea tersebut telah kedaluwarsa sejak April 2022. Meski PT.PSP telah memperpanjang masa edarnya hingga 2027 dengan cara menempelkan stiker baru, pengujian teknis menunjukkan bahwa kantong-kantong tersebut sudah berada dalam kondisi under specification. Ini berarti kualitasnya telah menurun, berpotensi pecah saat pengangkutan, dan semakin sulit untuk digunakan.

Fakta ini semakin menegaskan bahwa pengelolaan stok di PT.PSP penuh dengan kelalaian. Stok besar yang seharusnya menjadi aset malah berubah menjadi beban yang mengancam potensi kerugian negara.

Lebih ironis lagi, VP Pengembangan Korporat dan Bisnis PT. PSP telah mengusulkan beberapa opsi pemanfaatan kantong, seperti:

  1. Program insentif Aslap dan bonus pembelian.
  2. Penjualan ke pihak lain dengan harga lebih rendah.
  3. Re-sablon untuk kemasan produk lain seperti dolomit.
  4. Daur ulang menjadi bahan baku plastik untuk industri tekstil dan kemasan makanan.

Namun hingga pemeriksaan ini berakhir, tidak ada satu pun dari opsi tersebut yang direalisasikan.

Dengan kondisi ini, PT.PSP bukan hanya menunjukkan lemahnya manajemen persediaan, tetapi juga berisiko menyebabkan kerugian besar bagi negara. Jika tidak segera ada langkah tegas, stok kantong yang tidak terserap ini hanya akan menjadi limbah, sementara miliaran rupiah anggaran telah terbuang percuma.

Pemerintah dan aparat penegak hukum harus segera turun tangan untuk mengusut kelalaian ini. ( Redaksi/Guntur)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments

error: Content is protected !!