Palembang – RajawaliNews.online
Berawal dari pengalaman sebagai seorang pegawai, Suandri Yusuf memilih meninggalkan zona nyaman dan membangun usaha sendiri. Keputusan itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya hingga kini dikenal sebagai Owner/Direktur CV Tunas Mandiri Palembang, sekaligus sosok yang aktif mendorong para pekerja las (welder) di Sumatera Selatan untuk berani naik kelas dan membangun usaha secara profesional.
Perjalanan Suandri di dunia usaha tidak lahir secara instan. Sebelum terjun penuh sebagai pengusaha, ia sempat meniti karier di perusahaan pembiayaan hingga menduduki posisi kepala cabang. Namun, mobilitas pekerjaan yang mengharuskannya berpindah-pindah daerah membuat Suandri mulai melihat peluang lain.
Ia kemudian memilih membangun usaha sendiri dan mulai belajar menangani berbagai pekerjaan proyek. Dari proses tersebut, perlahan bisnis yang digelutinya berkembang hingga melahirkan CV Tunas Mandiri yang bergerak di bidang pengadaan barang, konstruksi baja, advertising, pagar besi dan stainless steel, serta berbagai pekerjaan pendukung lainnya.
“Dulu saya pegawai. Saya melihat peluang untuk berkembang di sana agak terbatas. Akhirnya saya memilih mencoba usaha sendiri. Awalnya dari proyek-proyek kecil, belajar dari pengalaman, sampai akhirnya berkembang seperti sekarang,” ujar Suandri.
Menurutnya, dunia usaha bukan hanya soal mengejar keuntungan, tetapi bagaimana membangun kepercayaan, menjaga kualitas pekerjaan dan menciptakan ruang bagi orang lain untuk ikut tumbuh.
Prinsip tersebut menjadi bagian dari perjalanan CV Tunas Mandiri yang mengedepankan efisiensi, ketepatan waktu dan kualitas pekerjaan, dengan kepuasan pelanggan sebagai salah satu prioritas.
Seiring perkembangan usaha, Suandri juga melakukan diversifikasi bisnis. Selain pekerjaan eksterior dan interior, ia mengembangkan lini usaha yang berkaitan dengan mesin, advertising, serta sejumlah usaha lainnya. Pengembangan tersebut dilakukan secara bertahap dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan pasar.
“Kalau kita mau berkembang, tidak bisa hanya mengandalkan satu bidang. Ada beberapa sektor yang masih ingin kita kembangkan. Prinsipnya bagaimana usaha tetap berjalan, bisa memberikan pekerjaan kepada orang lain dan terus berkembang,” katanya.
Langkah ekspansi juga mulai dilakukan ke Lubuk Linggau. Namun, Suandri menyebut lokasi tersebut lebih diarahkan sebagai pos distribusi dan pengembangan, bukan cabang dengan konsep fabrikasi seperti di Palembang. Di atas lahan sekitar 1.000 meter persegi, pembangunan pos tersebut dipersiapkan untuk mendukung distribusi dan aktivitas usaha di wilayah Lubuk Linggau dan sekitarnya.
Dari sisi sumber daya manusia, perkembangan usaha tersebut juga membawa dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Aktivitas usaha CV Tunas Mandiri di Palembang melibatkan puluhan pekerja pada bidang eksterior, interior, mesin dan unit usaha lainnya.
Jika digabung dengan rencana pengembangan di Lubuk Linggau, jumlah tenaga kerja yang terlibat diproyeksikan mencapai sekitar 150 hingga 160 orang. Sementara usaha lain yang masih berada dalam ekosistem bisnis Suandri juga menyerap sekitar 40 pekerja.
Bagi Suandri, bertambahnya tenaga kerja bukan sekadar angka. Di baliknya ada keluarga yang menggantungkan kehidupan, sehingga pertumbuhan usaha harus memberikan manfaat yang lebih luas.
“Kalau usaha berkembang, yang kita pikirkan bukan hanya perusahaan. Ada karyawan dan keluarga mereka yang ikut bergantung. Jadi bagaimana usaha ini bisa terus tumbuh dan memberikan manfaat, itu yang penting,” tuturnya.
Menariknya, di tengah kesibukannya mengembangkan bisnis, Suandri juga aktif berbagi pengalaman kepada para welder melalui APPI Sumsel. Ia mendorong pekerja las agar tidak hanya mengandalkan keterampilan teknis, tetapi juga memahami manajemen usaha, kualitas pekerjaan dan profesionalisme.
Baginya, keterampilan yang dimiliki seorang welder memiliki nilai ekonomi besar apabila dikelola dengan serius.
“Teman-teman welder sebenarnya punya kemampuan. Tinggal bagaimana kemampuan itu dikembangkan menjadi usaha yang profesional. Jangan hanya bekerja, tapi harus mulai berpikir bagaimana membangun usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan,” ungkapnya.
Ke depan, Suandri tidak ingin terburu-buru memperluas bisnis tanpa perhitungan. Ia justru mulai mengarahkan sebagian investasi ke sektor perkebunan, yang dinilainya memiliki prospek jangka panjang.
Saat ini, aset perkebunan yang dikelolanya telah berkembang hingga sekitar 70 hektare. Bagi Suandri, diversifikasi tersebut menjadi bagian dari strategi untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus mempersiapkan investasi masa depan.
Perjalanan Suandri Yusuf menjadi gambaran bahwa keberhasilan tidak selalu dimulai dari modal besar. Pengalaman, keberanian mengambil keputusan, kemauan belajar dan konsistensi justru menjadi modal penting untuk mengubah perjalanan karier menjadi sebuah usaha yang terus bertumbuh.
Dari seorang pegawai, ia memilih menjadi pengusaha. Dari proyek-proyek kecil, ia membangun jaringan usaha. Dan dari pengalaman tersebut, Suandri kini tidak hanya membangun bisnis untuk dirinya sendiri, tetapi juga berusaha membuka ruang bagi lebih banyak orang untuk bekerja, belajar dan berkembang.( Harto)


