Kuningan, Rajawalinews.online – Keberadaan kawasan wisata Arunika di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, selama ini lebih sering dipandang dari sudut keindahan lanskap dan geliat pariwisata. Namun peta geologi Gunung Ciremai memberikan sudut pandang yang berbeda: kawasan ini berdiri di atas lereng vulkanik dengan karakter geologi tertentu, yang secara ilmiah tidak bisa diperlakukan sebagai lahan biasa.
Peta Geologi Lapangan Panas Bumi Gunung Ciremai menunjukkan bahwa wilayah Cisantana merupakan bagian dari sistem vulkanik Ciremai yang masih aktif secara geologi. Meski berada di luar kawah utama, lereng ini tetap dipengaruhi oleh proses vulkanisme masa lalu dan dinamika struktur bawah tanah yang membentuk kondisi alamnya saat ini.
Dalam peta tersebut, kawasan Arunika berada di area yang tersusun oleh produk vulkanik Gunung Ciremai, Gunung Gegerhalang, dan Gunung Putri. Material ini berupa lava, breksi, dan tuf vulkanik, batuan yang secara ilmiah dikenal memiliki sifat rapuh, berpori, dan mudah lapuk, terutama ketika mengalami perubahan kontur dan gangguan vegetasi.
Karakter batuan ini sangat menentukan stabilitas lereng. Pada kondisi alami, keseimbangan tercipta melalui kombinasi kemiringan lereng, tutupan vegetasi, dan aliran air yang menyebar. Namun ketika kawasan tersebut dikembangkan menjadi destinasi wisata, keseimbangan tersebut berpotensi berubah.
Peta geologi tidak menyatakan apakah suatu bangunan melanggar hukum atau tidak. Namun ia berfungsi sebagai alat baca risiko, yang menunjukkan bahwa lokasi Arunika berada di kawasan dengan kerentanan alami. Karena itu, setiap aktivitas pembangunan dan pengembangan seharusnya didasarkan pada kajian teknis yang lebih ketat dibandingkan pembangunan di dataran stabil.
Dengan kata lain, sejak awal peta geologi telah memberi sinyal bahwa Arunika bukan berdiri di atas tanah netral, melainkan di atas sistem alam yang sensitif dan membutuhkan perlakuan khusus. (GUNTUR – Kaperwil Jabar)


