Jakarta — Sebuah pernyataan keras dan blak-blakan kembali mencuat dari seorang mantan Menteri Koordinator yang dikenal tegas dan berpengalaman memimpin sejumlah kementerian strategis. Dalam sebuah pertemuan tertutup yang rekamannya beredar luas, sosok tersebut menyoroti lemahnya koordinasi antar kementerian serta menilai banyak pejabat hanya sibuk dengan simbol jabatan tanpa menghasilkan kerja nyata.
> “Kalau tidak terintegrasi kerja itu, udahlah. Itu bohong saja itu. Anda pakai lambang-lambang Menteri, tapi tidak melakukan hal yang bagus. Tidak ada gunanya,” tegasnya dengan nada tinggi.
Ia bahkan menyinggung bahwa selama menjabat tiga kali sebagai Menko, dirinya kerap mengalami benturan langsung dengan Presiden karena upaya pembenahan yang tak jarang mengguncang kepentingan besar.
> “Saya tiga kali Menko. Sekali saya keplastuk Presiden. Tidak bisa. Kalau tidak terintegrasi kerja itu, bohong saja,” ujarnya lagi, menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan lintas sektor.
Dalam potongan lain, sang mantan pejabat juga menyinggung adanya “perantepan besar-besaran” dan menyebut dirinya akan menuntaskan sektor-sektor strategis secara bertahap, mulai dari industri rokok, tekstil, hingga baja.
> “Rokok saya akan beresin. Tekstil jadi rokok. Habis itu tekstil. Habis itu baja. Saya yang kejar satu-satu,” katanya dengan nada penuh tekad.
Pernyataan tersebut menimbulkan beragam tafsir di kalangan pengamat politik dan ekonomi. Ada yang menilai ucapan itu sebagai bentuk kekecewaan atas birokrasi yang tidak solid, namun ada pula yang melihatnya sebagai kritik tajam terhadap pemerintahan saat ini yang dinilai kehilangan arah koordinasi kebijakan.
Sumber internal menyebut, pernyataan itu diucapkan dalam konteks diskusi mengenai efektivitas kabinet dan upaya perbaikan sistem kerja pemerintah yang kerap tumpang tindih antar kementerian.
Kritik keras ini menjadi sinyal bahwa persoalan koordinasi dan ego sektoral antar lembaga masih menjadi penyakit kronis dalam tubuh pemerintahan, bahkan di level menteri sekalipun.
(red)


