Kuningan, Rajawalinews.online –Kelanjutan pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) “Merah Putih” di Desa Nanggela, Kecamatan Cidahu, kini berada dalam ketidakpastian. Proyek yang mulai dikerjakan pada 17 November 2025 itu dilaporkan berhenti sejak Februari 2026, tanpa kepastian kapan akan dilanjutkan.
Di lokasi pembangunan yang berada di tanah bengkok seluas kurang lebih 1.000 meter persegi di Dusun Puhun, RT 017 RW 004, aktivitas kini benar-benar terhenti. Tidak tampak lagi adanya kegiatan pekerjaan di lapangan. Para pekerja yang sebelumnya masih terlihat, kini sudah tidak ada sama sekali, meninggalkan bangunan dalam kondisi setengah jadi tanpa kepastian kelanjutan.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama terkait nasib bangunan yang sudah terlanjur berdiri namun belum rampung.
Ketua Kopdes “Merah Putih” Desa Nanggela, M. Rusmadi, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada kejelasan mengenai kelanjutan pekerjaan tersebut
“Sampai sekarang kami tidak tahu ini mau dilanjutkan kapan. Pekerjaan sudah lama berhenti, tapi tidak ada kabar apa-apa,” ujar Rusmadi.
Menurutnya, ketidakjelasan ini membuat pengurus koperasi berada dalam posisi serba tidak pasti. Bangunan yang seharusnya segera dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi desa justru terbengkalai tanpa arah.
“Kami hanya bisa menunggu. Tidak ada pemberitahuan, tidak ada koordinasi. Padahal ini untuk kepentingan koperasi dan masyarakat,” lanjutnya.
Informasi di lapangan menyebutkan, proyek ini ditangani oleh salah satu pemborong dari Kuningan dengan penghubung berinisial “AS”.
Namun hingga kini, tidak ada penjelasan apakah pekerjaan akan dilanjutkan atau dihentikan sepenuhnya.
Situasi semakin tidak jelas karena tidak adanya komunikasi lanjutan kepada pihak desa maupun pengurus koperasi. Tidak diketahui siapa yang bertanggung jawab memastikan pekerjaan ini kembali berjalan.
“Kalau memang dilanjutkan, kapan? Kalau tidak, kenapa? Kami butuh kejelasan. Jangan sampai bangunan ini dibiarkan begitu saja,” tegas Rusmadi.
Sementara itu Kepala Desa Nanggela, Tatang Setiana, juga mengaku heran dengan kondisi tersebut. Ia menyebut, di sejumlah lokasi lain pembangunan serupa sudah selesai, sementara di Nanggela justru berhenti di tengah jalan.
“Kami juga merasa heran, di tempat lain sudah beres, tapi di sini malah berhenti. Tidak ada penjelasan yang jelas,” ungkap Tatang.
Ia berharap pihak terkait segera memberikan kepastian dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda agar bangunan dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Harapan kami tentu pembangunan ini bisa segera diselesaikan. Jangan sampai dibiarkan terlalu lama,” tegasnya.
Di samping itu warga sekitar juga mulai mempertanyakan kondisi tersebut. bangunan yang mangkrak dikhawatirkan akan rusak jika terlalu lama tidak diselesaikan.
Tanpa kepastian kelanjutan, proyek ini berpotensi menjadi bangunan terbengkalai yang kehilangan fungsi sejak awal. Padahal, koperasi desa digadang-gadang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di tingkat lokal.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana proyek terkait rencana lanjutan pekerjaan.
Yang tersisa di Nanggela hari ini bukan sekadar bangunan setengah jadi,
melainkan pertanyaan besar: apakah proyek ini akan dilanjutkan, atau dibiarkan berhenti tanpa kepastian?
(Redaksi)


