Kalimantan Barat Ketapang ‘’ Rajawalinews.online’’
Bila harga BBM pakai Drum mahal, biasanya menjadi buah bibir di media massa dijamin pasti ramai membincangkan di dalam Jurnal jejaring sosial. Intinya, masyarakat terkesan riuh dengan bermacam tanggapan dan respon mempersoalkan urgensi kenaikan harga bensin dan solar. Kita sadari bahwa masyarakat pedalaman di Kabupaten Ketapang wilayah hukum Kalimantan Barat (Kalbar) selama ini tidak mau protes kala harga bensin dan solar naik serta pengisian di SPBU menggunakan jenis Drum.

Masyarakat di pedalaman mau beli Solar dan Bensin seperti di Desa Danau Buntar, Jambi, Kebanteng, Terusan, Kalimantan, Air Tarap, Air Hitam dan masih banyak lagi kemungkinan ada 30 Desa’an di Kabupaten Ketapang Kalbar yang merasakan susah minyak Bensin dan Solar.
Diungkapkan warga masyarakat Desa terisolir berinisial RJ pada Rajawalinews (RN) senin (01/08/22),” Jika masyarakat di pedalaman beli minyak Ke kabupaten/Kota hanya membeli 50 Liter, kemungkinan tidak cukup ongkos dan modal untuk penerangan mesin Genset hanya 2 malam saja, sehingga kami membeli kepada penampung BBM yang telah memiliki DO (Delivery Order) keterangan dari Kepala Desa dan Camat di Desa yang terisolir, kami bersyukur sebagai masyarakat Desa di pedalaman, bersyukur masih ada minyak Solar dan Bensin, walaupun harganya cukup berbeda dari harga yang ditetapkan dari Pusat.
Di pedalaman Ketapang kenaikan harga BBM yang di distribusikan oleh warga yang memiliki DO menggunakan Drum untuk mengantri di SPBU. Masyarakat pedalaman tak protes harga BBM Solar dan Bensin naik karena dibawa pakai drum dan jarang dibicarakan masyarakat pedalaman disebabkan mereka sangat terbantu serta tertolong.”katanya RJ.

Masyarakat tidak ada protes karena sejak lama masyarakat pedalaman telah terbiasa dengan harga BBM yang jauh lebih tinggi dari harga di dalam Kabupaten/Kota. Meskipun Pemerintah secara tertulis menetapkan kebijakan BBM satu harga, BBM di pedalaman umumnya tetap lebih tinggi daripada di Kabupaten/Kota. Hal ini karena mata rantai distribusi dan biaya distribusi yang panjang dan mahal di pedalaman.
Demikian pula dengan harganya bisa berlipat-lipat. Tergantung jarak dan panjang mata rantai distribusinya. Di distrik-distrik pelosok Desa yang terisolir dengan jalan yang sangat susah di tempuh, harga BBM bensin dan solar melonjak lebih tinggi, mengingat jarak tempuh yang jauh dan lamanya mengantri mengunakan Drum sehingga bermacam tanggapan berbagai kalangan yang beranggapan minyak Solar dan Bensin di konsumsi pribadi. Ya, wajar bila berpandangan negative terhadap kondisi yang ada, pro dan kontra selalu ada.
Hal ini yang patut diapresiasi adalah agar Pemerintah kita lebih berypaya dalam membangun infrastruktur transportasi di Daerah terisolir, setidaknya distribusi lebih lancar untuk menyalurkan pengiriman BBM ke Daerah terisolir yang penuh resiko dan tanggungjawab bersama penyaluran ke pelosok Desa terisolir, kita paham masyarakat pedalaman tak protes harga BBM Solar dan Bensin naik, semua demi mengatasi kelangkaan jenis BBM di Daerah terisolir, biar mahal yang penting ada.” Tandasnya RJ.*##(Tim rajawali.002)


