KUNINGAN, Rajawalinews.online — Polemik klaim atas nama Gerakan Satu Kuningan (GASAK) perlahan membuka kembali lembaran lama yang nyaris terlupakan. Di balik nama yang kini diperebutkan, tersimpan kisah perjuangan yang lahir bukan dari kenyamanan ruang rapat formal, melainkan dari semangat kolektif lintas elemen masyarakat.
Sejarah mencatat, deklarasi awal GASAK berlangsung sederhana namun sarat makna, di sebuah ruangan bawah tanah kediaman Babe Manaf. Tanpa seremoni besar, tanpa fasilitas mewah, hanya tekad yang menyatukan para penggagas.
Atmosfer pertemuan saat itu bahkan disebut berlangsung dalam situasi yang tidak sepenuhnya kondusif.
“Secara pribadi saya sampai harus diamankan sekitar tujuh jam oleh sejumlah pihak dari unsur ormas, Polri, dan TNI. Itu menunjukkan betapa besar dinamika saat GASAK mulai berdiri,” ungkap salah satu penggagas yang turut hadir dalam deklarasi awal.
Pertemuan tersebut menjadi titik awal konsolidasi gerakan yang kemudian dikenal luas di Kabupaten Kuningan.
Lahir dari Pengorbanan Pribadi
GASAK tidak dibangun dengan sokongan dana besar. Para penggagas justru merogoh kocek masing-masing demi memastikan roda organisasi dapat berputar.
Rumah makan milik Babe Manaf bahkan disebut menjadi “saksi bisu” sekaligus korban dari panjangnya rapat-rapat yang diwarnai rasa lapar dan dahaga para aktivis.
Namun dari ruang sederhana itulah gagasan besar tentang persatuan masyarakat Kuningan mulai dirumuskan.
Para Penggagas yang Masih Diingat
Sejumlah nama yang terlibat dalam fase pendirian hingga kini masih melekat dalam ingatan para pelaku sejarah gerakan tersebut, di antaranya:
- Manaf ( Ketua )
- Solehudin
- Runaedi
- Deki Jaenal Mutaqim
- Ebreg
- Tunggul
- Dadan Debleng
- Nana Gamas (alm.)
- Nana Barak
- Mang Adi Tato
- Almarhuma Teh Hana Nining
- Almarhum Primaladi
- Dede Winduhaji
- Kobul
Serta berbagai elemen LSM lainnya.
Kehadiran mereka menjadi fondasi awal organisasi yang kala itu digerakkan oleh idealisme, bukan kepentingan.
Dari Rapat Jumat ke Gelombang Aksi
Rapat perdana GASAK digelar pada Jumat sore, berlanjut pada deklarasi serta pendirian kantor yang berlokasi di samping rumah Asep Armala.
Tak lama berselang, GASAK menunjukkan eksistensinya melalui aksi besar di depan Kejaksaan. Demonstrasi tersebut dikenal sebagai salah satu mobilisasi massa paling kuat pada masanya.
Ebreg, Deki, Debleng, dan Rudi Geram tercatat sebagai orator lapangan, sementara komando aksi berada di bawah kepemimpinan Ketua Manaf.
Momentum itu menandai transformasi GASAK dari forum diskusi menjadi kekuatan sosial yang diperhitungkan.
Sejarah yang Kini Dipertaruhkan
Munculnya polemik klaim organisasi membuat para pelaku sejarah merasa perlu meluruskan narasi.
Bagi mereka, GASAK bukan sekadar nama, melainkan representasi dari pengorbanan, solidaritas, dan keberanian yang dibangun sejak awal.
Ketika identitas organisasi dipersoalkan, yang turut dipertaruhkan bukan hanya legalitas administratif, tetapi juga memori kolektif tentang bagaimana gerakan itu lahir.
Sejarah mungkin tidak bersuara keras, tetapi ia selalu meninggalkan jejak. Dan bagi para pendirinya, jejak itu tidak untuk dihapus, apalagi diklaim oleh mereka yang tak pernah berjalan di dalamnya. (GUNTUR – Kaperwil Jabar)


