Kuningan, Rajawalinews.online —
Tak banyak yang tahu, Kecamatan Cigandamekar di Kabupaten Kuningan ternyata tidak memiliki desa yang bernama sama. Meski demikian, nama Cigandamekar sudah dikenal warga sejak lama sebagai wilayah geografis di lereng selatan Gunung Ciremai, yang dulunya termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Cilimus.
Kecamatan ini resmi berdiri sendiri pada tahun 2004 melalui Peraturan Daerah Kabupaten Kuningan Nomor 18 Tahun 2004 tentang Pembentukan Kecamatan Cigandamekar. Pemekaran tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mempercepat pemerataan pembangunan dan mendekatkan pelayanan publik di wilayah utara Kabupaten Kuningan.
Berasal dari Wilayah Cilimus
Sebelum pemekaran, Kecamatan Cilimus membawahi lebih dari dua puluh desa, sehingga pelayanan publik menjadi kurang efektif. Setelah pemekaran, sebagian desa di wilayah utara dan timur Cilimus membentuk kecamatan baru dengan nama Cigandamekar.
Nama ini dipilih bukan karena ada desa dengan nama serupa, melainkan karena “Cigandamekar” sudah lama digunakan masyarakat sebagai sebutan kawasan atau blok alam di daerah Panawuan–Sangkanurip yang terkenal dengan sumber air panasnya dan udara sejuk khas lereng Ciremai.
“Dulu kalau orang Kuningan bilang mau ka Cigandamekar, maksudnya ya ke arah Panawuan atau Sangkanurip. Jadi nama itu sudah dikenal duluan sebagai kawasan, bukan desa,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.
Kini Kecamatan Cigandamekar terdiri dari 11 desa, yakni:
Babakanjati, Bunigeulis, Cibuntu, Indapatra, Jambugeulis, Karangmuncang, Koreak, Panawuan, Sangkanmulya, Sangkanurip, dan Timbang.
Wilayah ini memiliki luas sekitar 25,81 km² dengan jumlah penduduk lebih dari 32 ribu jiwa, berdasarkan data BPS Kuningan tahun 2022.
Sebagian besar masyarakatnya bekerja di sektor pertanian, perdagangan kecil, dan pariwisata. Desa Cibuntu bahkan dikenal sebagai Desa Wisata Terbaik Nasional, sedangkan Sangkanurip dan Sangkanmulya terkenal dengan objek wisata pemandian air panasnya.
Kecamatan Tanpa Desa Bernama Sama
Fenomena kecamatan tanpa desa bernama sama bukan hal yang langka di Indonesia. Namun untuk wilayah Kuningan, Cigandamekar termasuk unik karena nama kecamatannya diambil dari kawasan alam, bukan dari nama desa administratif.
Hal ini mencerminkan kuatnya identitas kultural masyarakat setempat terhadap nama “Cigandamekar”, yang sudah melekat sebelum ada pembagian wilayah formal.
“Nama Cigandamekar itu melambangkan kesejukan dan kemakmuran, sesuai arti katanya, CIGANDA berarti wewangian atau kesegaran, MEKAR berarti berkembang,” tambahnya
Dua dekade setelah berdiri, Cigandamekar tumbuh sebagai salah satu kecamatan muda yang dinamis di Kabupaten Kuningan. Potensi wisata, pertanian, dan budaya lokal terus berkembang, menjadikan kawasan ini sebagai poros baru kegiatan ekonomi di kaki Gunung Ciremai.
Dengan sejarah unik dan semangat masyarakat yang kuat, Cigandamekar menjadi bukti bahwa pemekaran wilayah tak sekadar pemisahan administratif, tetapi juga lahir dari identitas dan kebanggaan masyarakat terhadap tanah kelahirannya. (GUNTUR – Kaperwil Jabar)


