JAKARTA–Rajawalinews.online

Ditengah keterbatasan anggaran dan minimnya perhatian, tiga atlet menembak terbaik asal Sulawesi Tengah tetap berdiri tegak membawa nama daerah di Program Pembinaan Latihan (Binlat) Menembak Pengurus Besar Perbakin. Mereka adalah Aurel dan Joshua dari Kota Palu, serta Nailah dari Kabupaten Banggai Kepulauan, yang didampingi oleh pelatih berlisensi nasional asal Sulawesi Tengah, Yusuf Faisal Isima.
Keikutsertaan mereka dalam program bergengsi tersebut bukanlah sesuatu yang mudah diraih. Program Binlat PB Perbakin hanya diperuntukkan bagi atlet yang mampu memenuhi standar poin PB Perbakin. Tidak semua Provinsi berhasil meloloskan atletnya ke program ini, sehingga kesempatan yang diperoleh Sulawesi Tengah merupakan prestasi yang patut diapresiasi sekaligus dijaga.
Ironisnya, di balik keberhasilan tersebut, seluruh keberangkatan atlet dan pelatih ke Jakarta dibiayai secara mandiri oleh keluarga masing-masing. Tanpa dukungan anggaran pemerintah maupun sponsor, mereka tetap memilih berangkat demi menjaga mimpi mengharumkan nama Sulawesi Tengah di tingkat nasional bahkan internasional kelak.
Pelatih Nasional, Yusuf Faisal Isima menyampaikan bahwa kondisi ini harus menjadi perhatian serius. Menurutnya, perjuangan atlet tidak seharusnya hanya menjadi beban keluarga dan Cabang Olahraga, sebab mereka sedang membawa nama daerah di panggung Nasional.
”Kami tidak meminta kemewahan. Kami hanya berharap ada perhatian dan kepedulian dari Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi, KONI Sulawesi Tengah, para pejabat, serta para pemerhati olahraga di Sulawesi Tengah agar dapat memberikan perhatian dan dukungan, baik secara moril maupun materil, karena dukungan sekecil apa pun akan menjadi energi besar bagi para atlet untuk terus berjuang dan berprestasi” ujarnya.
Program Binlat PB Perbakin ini juga menjadi bagian penting dalam persiapan menghadapi Minimum Qualification Score (MQS) PON 2028 Tahap I yang dijadwalkan akan berlangsung pada pertengahan Agustus 2026. Artinya, keberhasilan para atlet saat ini bukan hanya menyangkut prestasi pribadi, melainkan juga peluang bagi Sulawesi Tengah untuk memiliki wakil pada ajang olahraga terbesar di Indonesia.
Para atlet dan pelatih mengakui bahwa kondisi fiskal pemerintah saat ini sedang menghadapi tantangan berat akibat dari kebijakan efisiensi anggaran Nasional. Namun, keterbatasan tersebut tidak seharusnya membuat perjuangan atlet daerah kehilangan perhatian dan kepedulian.
Yang paling terasa, menurut mereka, adalah minimnya kehadiran dukungan langsung dari daerah. Para atlet Sulawesi Tengah sering datang dan bertanding sendiri. Sementara di arena yang sama, atlet-atlet dari provinsi lain umumnya didampingi oleh pejabat daerah, pengurus olahraga, ataupin sponsor yang hadir memberikan support
Perbandingan ini bukan dimaksudkan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan menjadi cermin bahwa perhatian terhadap atlet masih perlu ditingkatkan.
Dukungan moral dari pemerintah dan masyarakat sering kali memiliki arti yang sama besarnya dengan bantuan materi.
Kini, harapan itu kembali disampaikan kepada seluruh pemangku kepentingan di Sulawesi Tengah. Pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi, KONI Sulawesi Tengah, hingga para pemerhati Olahraga Sulawesi Tengah diharapkan dapat bergandengan tangan memberikan perhatian dan dukungan kepada putra-putri terbaik daerah yang sedang berlatih dan berjuang di tingkat nasional.
Karena pada akhirnya, prestasi bukan hanya lahir dari hasil kerja keras Atlet dan Pelatih, tetapi juga dari kepedulian daerah yang berdiri di belakang mereka. Jangan sampai ketika medali berhasil dipersembahkan, apresiasi baru datang setelah seluruh perjuangan mereka dilalui dengan biaya dan pengorbanan sendiri.
Red.


