KUNINGAN – RAJAWALINEWS.ONLINE, – Hari ini, dunia memperingati Hari Keamanan Pangan Sedunia dengan tema yang tak pernah kehilangan relevansi: menjamin akses pangan yang sehat, aman, dan berkelanjutan. Namun di balik peringatan ini, terselip ironi yang kian nyata—terutama di tanah Nusantara yang kaya akan tanaman berkhasiat.
Banyak masyarakat lebih memilih berobat mahal di rumah sakit daripada mengonsumsi pangan lokal berkhasiat yang sudah terbukti turun-temurun.
Ubi, mengkudu, pisang emas, kesemek, dan hanjeli—semuanya mulai tersingkir dari meja makan, digantikan oleh produk instan yang tak jelas asal usulnya.
“Tanaman-tanaman lokal yang dulu akrab dalam kehidupan sehari-hari kini mulai terlupakan, hanya dikenang oleh segelintir orang tua di pedesaan. Hal itu disampaikan Dani Sukun, jurnalis senior sekaligus pegiat pangan lokal di Kabupaten Kuningan, pada Sabtu (7/6/2025). Sebagai Ketua Ikatan Alumni Fakultas Kehutanan UnWiM (ARGADIKA) Kuningan dan penggiat Aliansi Masyarakat Peduli Aliran Sungai (AMPAS), Dani menyoroti pentingnya pelestarian tanaman lokal yang memiliki nilai budaya dan ekologi tinggi, agar tidak punah ditelan modernisasi.
Padahal, Indonesia adalah surga tanaman herbal dan pangan tradisional. Sayangnya, modernisasi yang tak diimbangi dengan edukasi membuat banyak masyarakat lupa akar—secara harfiah dan maknawi.
Peringatan Hari Keamanan Pangan Sedunia seharusnya tidak hanya menjadi seremoni, tetapi momen untuk kembali mengenal, menanam, dan menghidupkan kembali sumber pangan alami yang sehat dan lestari. (Moris)


