Palembang – RajawaliNews.online
Harapan menghadirkan pendidikan Al-Qur’an yang inklusif bagi penyandang disabilitas Tuli mulai diwujudkan melalui pembangunan Rumah Tahfidz Al-Qur’an Roudhotul Ashom Nusantara di Kompleks Perumahan Privilege Palembang, Jalan Masjid Az-Zikra, Kecamatan Gandus, Sabtu (16/08).
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru hadir langsung sekaligus melakukan ground breaking dan peletakan batu pertama pembangunan rumah tahfidz yang diperuntukkan khusus bagi sahabat Tuli tersebut. Rumah tahfidz ini disebut menjadi yang pertama di Sumatera dan kedua di Indonesia.
Dalam sambutannya, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengapresiasi pembangunan Rumah Tahfidz Al-Qur’an khusus disabilitas Tuli tersebut. Menurutnya, program ini memiliki keistimewaan karena menggunakan bahasa isyarat sebagai metode pembelajaran Al-Qur’an bagi sahabat Tuli. “Program kami ini spesial, karena khusus sahabat Tuli. Kalau tunanetra menggunakan Braille, kalau ini menggunakan bahasa isyarat. Kita bisa bayangkan bagaimana para ustadz-ustadzahnya mengajar, tentu membutuhkan kesabaran,” ujar Herman Deru.
Herman Deru berharap keberadaan rumah tahfidz ini semakin memperkuat langkah Sumatera Selatan menuju provinsi yang religius. Ia menyebut, capaian Sumsel yang kembali masuk jajaran 10 besar MTQ Nasional pada 2022 tidak terlepas dari berkembangnya rumah-rumah tahfiz sejak 2019. “Ini tentu akan lebih konkret untuk langkah Sumatera Selatan menuju provinsi yang religius. Kita bangga dan bersyukur punya sumber daya manusia muda yang hebat-hebat,” katanya.
Sementara itu, penggagas sekaligus perwakilan Privilege Palembang, Ryoga Nugraha, mengatakan pembangunan Rumah Tahfidz Roudhotul Ashom Nusantara merupakan bagian dari cita-cita bersama untuk menyediakan tempat belajar Al-Qur’an yang layak dan permanen bagi sahabat Tuli.
“Alhamdulillah, Pak Gubernur berkenan hadir dan melakukan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Tahfidz khusus Tuli, pertama di Sumatera, kedua di Indonesia,” ujar Ryoga.
Menurut Ryoga, selama ini kegiatan belajar Al-Qur’an bagi sahabat Tuli masih berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Kondisi tersebut membuat proses pembelajaran belum memiliki tempat yang tetap.
Di balik pembangunan rumah tahfidz tersebut terdapat perjuangan panjang Ustaz Akbar yang selama empat tahun mengajarkan Al-Qur’an kepada sahabat Tuli tanpa menerima bayaran.
Setiap Kamis, mulai sekitar pukul 16.00 hingga 21.00 WIB, Ustaz Akbar secara rutin mendampingi para sahabat Tuli belajar Al-Qur’an. Kegiatan tersebut bahkan dilakukan dengan berpindah-pindah tempat.
“Pak Ustaz Akbar ini sudah empat tahun mengajar tanpa dibayar untuk kaum Tuli. Setiap hari Kamis, dari jam empat sore sampai jam sembilan malam mengajarkan kawan-kawan Tuli,” ungkap Ryoga.
Perjuangan tersebut kemudian mendapat perhatian dari sejumlah pihak hingga akhirnya para donatur menghibahkan lahan untuk pembangunan rumah tahfidz melalui yayasan Taman Tuli Privilege Ashom. Nantinya, fasilitas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara gratis oleh sahabat Tuli.
Ustaz Akbar menjelaskan, pembelajaran Al-Qur’an bagi sahabat Tuli memiliki tahapan khusus. Proses dimulai dari mengenal huruf hijaiyah, menguraikan dan merangkai huruf, membaca sekaligus menghafal, hingga tahap kitabah atau menuangkan hafalan ke dalam tulisan.
“Karena kawan-kawan Tuli menangkap ilmu secara visual, prosesnya memang membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra,” jelasnya.
Untuk target hafalan, pembelajaran akan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta. Namun, sebagai tahap awal, para santri akan difokuskan pada Juz 30 karena surat-surat di dalamnya menjadi bagian penting dalam pelaksanaan salat.
Selain metode pembelajaran khusus, Ustaz Akbar dan para pengajar juga telah mendapatkan sanad keilmuan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada sahabat Tuli. Pada 2024, Herman Deru turut mendorong pengembangan kemampuan tersebut dengan memfasilitasi Ustaz Akbar bersama komunitas Tuli untuk belajar dan mengambil sanad di Yogyakarta.
Sanad tersebut menjadi bagian penting karena metode mengajarkan Al-Qur’an kepada penyandang Tuli memiliki pendekatan berbeda. Penggunaan bahasa isyarat menjadi sarana utama agar pesan dan bacaan Al-Qur’an dapat dipahami secara visual.
Pembangunan Rumah Tahfidz Roudhotul Ashom Nusantara pun menjadi simbol kolaborasi antara sahabat Tuli, ustadz-ustadzah, penggagas, yayasan, donatur, dan pemerintah dalam menghadirkan pendidikan keagamaan yang inklusif.
Kehadirannya diharapkan membuka ruang yang lebih luas bagi sahabat Tuli untuk belajar, membaca, menghafal, dan semakin dekat dengan Al-Qur’an, sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar melahirkan generasi Qur’ani di Sumatera Selatan tanpa sekat keterbatasan.
Harto.


