Minggu, Oktober 4, 2026
spot_img

Pengendalian Persediaan Lumpuh: SOP Absen, Pencatatan Obat Asal Penyesuaian, dan Gudang Berstatus Tempat Loak

Lubuk Linggau Rajawali News— Penatausahaan Persediaan atas Barang Pakai Habis Belum Memadai
Hasil pemeriksaan atas laporan Persediaan dan permintaan keterangan kepada
seluruh Pengurus Barang pada 40 SKPD menunjukkan bahwa Persediaan yang
berasal dari belanja alat tulis kantor, perabot kantor, dan alat listrik tidak dicatat
dalam laporan Persediaan. Atas Persediaan tersebut, Pengurus Barang tidak
menyusun kartu Persediaan, tidak melakukan pencatatan mutasi Persediaan, serta
tidak menyusun laporan Persediaan secara berkala. Kondisi ini terjadi karena
pengadaan Persediaan dilaksanakan oleh masing-masing bidang dan langsung
disimpan oleh bidang terkait, sementara pengelolaan dan pendistribusiannya
dilakukan oleh PPTK tanpa pencatatan keluar masuk barang. Selain itu, Pengurus
Barang juga menjelaskan bahwa pada masing-masing SKPD belum memiliki
Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam pengelolaan Persediaan.
b. Pencatatan Persediaan pada Depo IGD RSUD Siti Aisyah Belum Akurat
Pada CaLK per 31 Desember 2025, saldo Persediaan obat RSUD Siti Aisyah tercatat
sebesar Rp2.755.926.729,34. Pencatatan persediaan dilakukan melalui kartu stok
dan aplikasi SIMRS Khanza, dengan laporan persediaan disusun berdasarkan data
aplikasi dan hasil stok opname akhir tahun.
Hasil pemeriksaan fisik secara uji petik atas 27 jenis persediaan obat sebesar
Rp392.030.409,23 pada Gudang Farmasi dan Depo Instalasi Gawat Darurat (IGD)
menunjukkan adanya ketidakakuratan pencatatan mutasi masuk dan keluar pada
sepuluh jenis obat di Depo IGD. Kondisi tersebut terjadi karena pencatatan mutasi
Persediaan belum dilaksanakan secara tertib. Petugas Farmasi tidak melakukan
pencatatan mutasi masuk dan keluar secara periodik, melainkan langsung
menyesuaikan jumlah Persediaan pada akhir bulan berdasarkan hasil stok opname.
Ketidaktertiban pencatatan tersebut antara lain disebabkan oleh:
1) Permintaan dan pengembalian obat dari Depo Rawat Inap yang tidak didukung
dengan dokumen permintaan/pengembalian;
2) Pengeluaran obat dari resep tidak diinput ke dalam aplikasi oleh dokter yang
bertugas; dan
3) Keterbatasan jumlah sumber daya manusia pada Depo IGD yang hanya terdiri
dari dua orang dan harus melayani kebutuhan obat di luar jam operasional Depo
Rawat Inap (jam operasional sampai pukul 14.00 WIB), sehingga meningkatkan
beban kerja.
c. Gudang Penyimpanan Persediaan pada Tiga SKPD Tidak Memadai
Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa kondisi gudang penyimpanan
Persediaan pada Sekretariat Daerah, DPKPPB, serta Bapenda tidak memadai.
Barang Persediaan disimpan tidak tertata dengan rapi dan bercampur dengan barang
bekas atau tidak terpakai, sehingga berpotensi menurunkan kualitas dan menyulitkan
pengendalian Persediaan. Kondisi tersebut disajikan pada gambar berikut.

(red)

Iklan Sponsor
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Iklan Sponsor
- Advertisment -
⚡ Ruang Iklan TersediaPosisi: Sidebar Kanan
Klik untuk pasang iklan.
Pasang Sekarang

Most Popular

⚡ Ruang Iklan TersediaPosisi: Sidebar Kanan Bawah
Klik untuk pasang iklan.
Pasang Sekarang
error: Content is protected !!