KABAG HUKUM PRABUMULIH: “PERWALI TPP TIDAK WAJIB PERSETUJUAN MENDAGRI” – WRC: TABRAK 3 ATURAN + LHP BPK
*Prabumulih* -rajawalinews.online
Bagian Hukum Setda Kota Prabumulih akhirnya menjawab konfirmasi WRC terkait legalitas Perwali TPP Rp128 M. Melalui pesan WhatsApp 4 Juni 2026 pukul 14.20 WIB, Bagian Hukum menyatakan: _”Perwali tidak wajib di sahkan oleh Menteri Dalam negri”_.
Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Kabag Hukum mengaktifkan timer pesan 24 jam saat pertama dikonfirmasi WRC pukul 12.53 WIB.
Salah satu pejabat BPKAD menjawab _”Iyo ndo”_ saat ditanya pencairan TPP 2024 Rp128 M. Pejabat tersebut menunjuk _”Kuasa BUD ado di Kabid Pengelolaan Keuangan Daerah”_ sebagai penandatangan SP2D.
Dan juga. Pengakuan Staf Wali Kota: “Mungkin Lg Proses” 12.10 WIB
Salah satu Asisten Setda mengakui _”mungkin lg proses utk TL”_ saat ditanya tindak lanjut LHP BPK No.11/LHP/XVIII.PLG/01/2025 yang mewajibkan revisi Perwali TPP & persetujuan Mendagri. Asisten juga membenarkan _”oh yo”_ bahwa Kuasa BUD wajib verifikasi Perwali sebelum terbitkan SP2D.
ketika di “Konfirmasi Bagian Hukum” | 12.50 WIB
Kabag Organisasi Setda tidak menjawab status revisi Perwali dan mengarahkan WRC: _”Sy konfirmasi dahulu dng bagian hukum 🙏”_.
Saat pertama dihubungi, muncul notifikasi: _”Bagian Hukum menggunakan timer default untuk pesan sementara. Pesan baru akan hilang dari obrolan ini 24 jam”_. Setelah 1,5 jam, Kabag Hukum menjawab: _”Perwali tidak wajib di sahkan oleh Menteri Dalam negri”_.
Dengan pernyataan itu Suandi, Divisi Pengawasan & Penindakan WRC Prabumulih menegaskan:*
_”Pernyataan Kabag Hukum keliru fatal & menyesatkan publik. Ada 3 dasar hukum yang mewajibkan persetujuan Mendagri:_
*Kepmendagri 900-4700/2020 Diktum KEEMPAT*: ‘Perkada tentang TPP ditetapkan… setelah mendapat persetujuan Menteri’._
2. *PP 12/2019 Pasal 58 ayat (2)*: ‘Perkada mengenai tambahan penghasilan… ditetapkan dengan persetujuan Menteri’._
3. *LHP BPK No.11/LHP/XVIII.PLG/01/2025 hal 33*: ‘ajukan kepada Mendagri untuk memperoleh persetujuan.
Jika Kabag Hukum bilang tidak wajib, beliau melawan Mendagri, Peraturan Pemerintah, & BPK sekaligus. Ini blunder hukum. Atau jangan-jangan sengaja untuk tutupi fakta bahwa Perwali revisi + Surat Mendagri memang tidak ada sama sekali?tegas Suandi
Red.


