Jumat, Juli 3, 2026
spot_img

Fakta di Lapangan, Puluhan Siswa SMA Negeri 1 Luragung Dirawat dan Ratusan Terdampak

Kuningan, Rajawalinews.online – Suasana haru bercampur kepanikan menyelimuti ruang perawatan Puskesmas Luragung pada Jumat (3/10) pagi. Di balik hiruk pikuk tenaga medis yang hilir mudik, tampak puluhan pelajar SMA Negeri 1 Luragung terbaring lemah di atas ranjang perawatan, beberapa di antaranya dengan selang infus menempel di tangan. Isak tangis para orang tua terdengar lirih di setiap sudut ruangan, menggambarkan kecemasan mendalam atas kondisi anak-anak mereka. Pagi itu, Puskesmas Luragung menjadi saksi kepanikan massal akibat dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah insiden yang mengguncang dunia pendidikan di Kabupaten Kuningan.

Data yang dihimpun menunjukkan 84 siswa menjalani perawatan medis di Puskesmas Luragung, dengan tujuh siswa di antaranya sempat diinfus akibat dehidrasi berat. Lima siswa lainnya harus dirujuk ke Rumah Sakit Kuningan Medical Center (KMC) untuk penanganan lebih lanjut karena menunjukkan gejala serupa.

Tak berhenti di situ, sebanyak 113 siswa dilaporkan absen sekolah keesokan harinya. Mereka diduga masih mengalami gejala mual, pusing, dan diare setelah mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (2/10/2025). Gejala mulai muncul pada malam harinya, bahkan beberapa siswa mengeluh sakit hingga dini hari. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa skala kejadian jauh lebih luas dari laporan awal.

⚡ Ruang Iklan TersediaPosisi: Iklan Dalam Artikel
Klik untuk pasang iklan.
Pasang Sekarang

Ketua Satgas MBG Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, menegaskan bahwa pendataan korban harus dilakukan secara cermat agar tidak menimbulkan kesimpulan keliru. Ia memerintahkan pihak sekolah untuk memastikan penyebab pasti ketidakhadiran siswa.

“Semua data harus dijalankan dengan hati-hati. Kami harus tahu apakah ketidakhadiran mereka akibat sakit biasa atau benar-benar karena keracunan,” jelas Wahyu, yang juga menjabat sebagai Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kabupaten Kuningan.

Untuk menelusuri sumber masalah, tim gabungan dari Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Satgas MBG kini bergerak menelusuri setiap rantai distribusi makanan, mulai dari dapur penyedia, proses pengolahan, hingga waktu pengantaran ke sekolah.

“Semua titik kami periksa. Tidak hanya bahan makanan, tapi juga air, peralatan masak, hingga kendaraan pengantar,” tegas Wahyu.

Laporan medis dari Puskesmas Luragung menyebutkan gejala yang dialami siswa umumnya mual, muntah, diare, pusing, dan lemas. Gejala mulai muncul sekitar pukul 20.00 malam, beberapa jam setelah para siswa menyantap menu makan dari dapur MBG Luragung landeuh.

“Awalnya hanya beberapa anak yang mengeluh pusing dan sakit perut, tapi jumlahnya terus bertambah cepat,” ujar salah satu petugas medis yang berjaga.

Untuk memastikan penyebab utama keracunan, Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan telah mengirim sampel makanan, muntahan, dan feses siswa ke laboratorium milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Hasil uji laboratorium tersebut diharapkan keluar dalam waktu sekitar satu minggu guna mengetahui apakah sumber keracunan berasal dari bakteri, racun, atau kontaminan bahan pangan.

Sementara itu, pihak SMAN 1 Luragung bersama Dinas Pendidikan terus berkoordinasi untuk memastikan seluruh siswa mendapatkan pendampingan medis dan psikologis. Aktivitas belajar sementara difokuskan pada pemulihan dan pemantauan kesehatan para siswa. Guru-guru turut membantu tenaga medis menjaga siswa di puskesmas, sementara sejumlah orang tua tidak beranjak sejak malam kejadian, menemani anak-anak mereka yang masih terbaring lemah.

Kejadian ini menimbulkan trauma mendalam bagi banyak siswa dan keresahan di kalangan orang tua. Sejumlah keluarga bahkan memilih membawakan bekal dari rumah untuk sementara waktu sampai ada hasil pasti dari laboratorium.
“Anak saya masih takut makan dari MBG, ” tutur salah satu orang tua siswa yang masih cemas dengan keselamatan anaknya.

Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya menutup dapur sementara, tetapi juga melakukan pembenahan total terhadap sistem MBG, terutama dalam aspek kebersihan, pengawasan bahan makanan, dan proses distribusi.

Menanggapi hal ini, Pemerintah Kabupaten Kuningan memastikan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh dapur MBG di wilayah Kuningan tengah disiapkan.
“Begitu hasil laboratorium keluar, kami tindak lanjuti. Bila ada unsur kelalaian, sanksinya tegas,” tegas Wahyu Hidayah.

Kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa di balik program sosial yang tampak sederhana, tersimpan tanggung jawab besar terhadap keselamatan publik.

Harapan banyak pihak kini tertuju pada ketegasan pemerintah dalam menegakkan standar keamanan pangan, agar insiden serupa tidak kembali mencederai generasi muda dan kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah.
(GUNTUR – Kaperwil Jabar)

 

⚡ Ruang Iklan TersediaPosisi: Iklan Setelah Konten
Klik untuk pasang iklan.
Pasang Sekarang
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
⚡ Ruang Iklan TersediaPosisi: Sidebar Kanan 1
Klik untuk pasang iklan.
Pasang Sekarang
- Advertisment -
⚡ Ruang Iklan TersediaPosisi: Sidebar Kanan
Klik untuk pasang iklan.
Pasang Sekarang

Most Popular

Iklan Sponsor
error: Content is protected !!