Hembusan Proyek Kementerian Agama Berbau Korupsi
Tahap 1&2 Di Ketapang Kalbar

Kalimantan Barat- Ketapang || Media Rajawalinews.online

Masih Tergiang di ingatan Berapa besar Korupsi pengadaan Quran Kementerian Agama, Proyek Kementerian Agama Tahun 2011-2012. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ditetapkannya tersangka kasus korupsi proyek bimbingan masyarakat (Binmas) Islam yang dilansir Koran Tempo ditengarai menjadi otak pembagian uang Fee proyek Binmas Kementerian Agama yang merugikan negara hingga Rp 27,056 miliar.

Poto istimewa

Pasalnya Proyek Tahap 1&2 Kementerian Agama Republik Indonesia di Kantor Kementerian Agama Kab.Ketapang Provinsi wilayah Hukum Kalimantan Barat (Kalbar), Paket Proyek Pembangunan Gedung Pelayanan Haji dan UmrohTerpadu, Nomor Kontrak: 975/KK.14.13/KS.01.1/06/2021.’’ Pelaksana CV.LINGGA PUTRA PERDANA dengan Nilai Proyek Rp.1,8 Milyar.

Disinyalir Terendus Beraroma Busuk dalam pengadaan barang/jasa Proyek Pemerintah dan Terindikasi sering terjadi kesalahan yang mengakibatkan adanya potensi tindakan pelanggaran hukum, diantaranya kesalahan memandatariskan Proyek Indikator mark-up atau Proyek Korupsi terhadap penyusunan HPS, dan sering terjadi ketidaksesuaian dengan barang yang telah ditentukan di perjanjian kontrak antara panitia Pengadaan pengguna barang/jasa, sering terjadi kekeliruan terhadap wewenang yang diberikan yang mengakibatkan adanya pertingkis dan pertingkisan hukum dan merugikan keuangan negara dari pajak rakyat.

Masyarakat dan LSM menggambarkan upaya sungguh-sungguh dari Panglima Hukum dalam pemberantasan korupsi Sisteamatis dan berjema’ah, khususnya di Kab.Ketapang wilayah Hukum Kalbar masih beraroma Bubur Pedas dan Teh Celop.

Ikwalnya Berbagai sorotan kritis publik menjadi ukuran prameter Sampling korupsi di Internal penguasa di Daerah Kab.Ketapang Kalbar, indikasi Dugaan kuat praktek dalam Tender Proyek Sisteam Elektronik maupun dalam pelaksanaan Kegiatannya disinyalir proyek Mark-up dalam Pengadaan barang/jasa yang menjadi salah satu peluang sangat besar untuk melakukan tindakan korupsi, peluang yang paling besar melakukan tindakan korupsi yaitu pengadaan barang/jasa seperti pengadaan Proyek Pembangunan Gedung Pelayanan Haji dan UmrohTerpadu.

Rajawalinews (RN) Kamis (28/10/21) investigasi ke proyek Kantor Kementerian Agama mengkonfirmasi pekerja proyek sebut namanya ‘Aprianus’ mengatakan,”
Yang punya kerja ini orang Pontianak, ini sudah berapa hari tak ada yang kerja. Ujarnya,” Uangnya dak ada, kami udah nunggu reng belom datang dan atap belum datang, udah 3 hari dah tidak bekerja. Semen Cor dan lain-lain Adukannya pakai manual gak pake molen. Diucapkannya lanjut,” Keuangannya gak lancar, mereka mintak kite kerja semua, kenapa gak kerja sendiri pak kate aku, soalnya kami bekerja selesai atap mau turun kebawah ke palfon maksudnya biar cepat, tapi bahannya belum lengkap semua, atap gak ada, reng gak ada. Saya pekerja bagian atap, Kepala rombongannya ada di Pontianak dan saya hanya mewakili jak. Kalau tidak ada uangnya kami yang bekerja mau balik cari pekerjaan yang lain aja.

Udah 3 hari dah dak kerja, bahannya belum datang-datang. Kemarin juga pertama kali datang sini skrup baja gak ada, minta sama pengawas tu, kan awal bikin Asnya pake skrup Gipson. Dak apa pake itu dulu katanya, setelah datang skrup baru di ganti. Aku nanya, takutnya konsultan datang di lihat dan photo, jadi Bos kami complain nanti dan marah kami uang susah nantinya,” pungkasnya perwakilan tukang Gedung Kantor Agama Kementerian Aprianus.

Terpisah saat konfirmasi bersama Pelaksana kontraktor lewat Via Hp no.08575258xxxx diungkapkannya,” pekerjaan masih finishing, untuk material pasir dari AKP dan cerucuk dari suplayer. Untuk prosedur ijinnya pengangkutan pasir dan kayu ada semua. PPK nya Pak Pahriani dari Dinas Kementrian Agama tu. Ini kegiatan tahap 2,” tuturnya.

Dipertanyakan lebih lanjut ke Kantor Kementrian Agama menanyakan keberadaan Pak Pahriani pemilik proyek sebagai PPK dikatakan stap penjaga buku tamu kantor, Pak Pahriani tidak ada di tempat sedang di Pontianak. Saat RN mau mengisi buku tamu sebagai bukti sudah datang ke Kantor Kementrian Agama untuk konfirmasi sempat di cegat dengan alasan Pak Pahriani tidak ada di tempat, ketika di tanya buku tamu, penjaga stap sempat bingung buku tamu tidak ada.’’ Semua mempersulit sehingga berbelit-belit urusannya hanya untuk mengisi sebuah buku tamu.

Proyek Gedung Kementerian Kab. Ketapang menganti Baut kerangka baja dengan Baut Gipson dan Pengecoran Tangga dan Pondasi serta yang lainya menggunakan Adukan Manual tidak memakai Molen. Disinyalir bangunan Gedung Kantor Agama Rawan akan Ambruk serta tidak bertahan lama akibat asal kerja, terendus pelaksana dan pengawas bangunan maupun PPK tidak ada pengawasan terhadap pelaksanaan proyek Gedung Kantor Agama. Saat di konfirmasi PPK Pak Pahriani tidak ada di tempat, dikatakan stap penjaga tamu PPK Pahriani keluar kota ke Pontianak. Ironi serta celakanya saat tim RN mau mengisi buku tamu dikatakan Stap penjaga buku tamu Kantor Kementerian Agama Ketapang, Buku Tamu Tidak ada. Hembusan proyek Kementerian Agama berbau Korupsi
tahap 1&2 di Ketapang Kalbar *##(Yan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here