Laporan Polisi Di Polres Karawang Terkesan Lemot, Terkait Dua Karyawan PT. SGM Diancam Dan Dianiaya Oleh Tiga Oknum Atasan

KARAWANG,Media Rajawalinews.online

Sungguh malang nasib yang dialami oleh 2 Karyawan PT. Surya Global Mandiri (SGM) yang sebelumnya berlokasi di Ruko Sumarecon Blok BA No. 08 Desa Kondang Jaya Kecamatan Karawang Timur Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat. Sekarang menurut informasi, PT. SGM sudah pindah ke daerah Bekasi Jawa Barat.

Pasalnya, kedua Karyawan PT. SGM yang berinisial AS (Pria) dan EEA (Wanita) tersebut diduga mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dan bisa dikatakan sangat sadis oleh atasannya. Seolah mereka berdua hanya dianggap Binatang oleh Oknum MR yang mengaku selaku Owner, IGi selaku Direktur dan IGa. Ketiganya diketahui sebagai atasan AS dan EEA.

Kedua Karyawan tersebut diduga menjadi Korban KEBIADABAN ketiga Oknum atasannya di PT. SGM tempat keduanya bekerja. AS dan EEA mengalami tindakan penyekapan dan penganiayaan oleh ketiga Oknum tersebut.

Kejadian bermula, saat AS dan EEA dipanggil oleh MR, IGi dan IGa ke salah satu ruangan di PT. SGM, yakni pada tanggal 24 Mei 2021 sekitar pukul 08.00 WIB.

Keduanya diintimidasi dengan berbagai macam ancaman dari ketiga Okum atasannya, terkait masalah dugaan penggelapan uang Perusahaan sebesar Rp. 1.1 miliar yang dituduhkan kepada AS dan EEA dan mereka berdua dipaksa harus mengakuinya.

“Hari Senin, 24 Mei 2021 dari jam 08.00 WIB sampai jam 03.00 WIB Selasa, 25 Mei 2021 dini hari, saya diintimidasi. Kemudian dianterin pulang dengan mobil yang saya pakai dan mobil saya dibawa oleh mereka.”

“Saya diancam akan disayat dengan Pisau Cutter yang baru dibeli, lubang anus akan dikasih jeruk Nipis sampai Balsam pun sudah disiapkan dan saya dipukul oleh MR dan IGa,” kata AS kepada awak media , Kamis (22/7).

Bukan hanya itu saja, lanjut AS, keesokan harinya pada Selasa 25 Mei 2021 sekitar pukul 09.00 WIB, mereka kembali ke tempat kerja (PT. SGM) dan mereka berdua tetap mengalami intimidasi dan tetap disuruh mengaku terkait penggelapan uang. Bahkan sampai adanya tindakan pemukulan yang dilakukan oleh Oknum IGi kepada dirinya.

“IGi menotok dada saya kurang lebih sebanyak 20 kali. Penyayatan tidak terjadi, tapi pisau Cutter itu sudah dibelinya. Saya pulang jam 23.30 WIB,” terangnya.

Sebenarnya, kata AS, Dirinya di hari Kamis 27 Mei 2021 tidak ingin masuk kerja, karena Ia merasa takut terancam keselamatannya setelah ketiga Oknum atasannya di hari sebelumnya melakukan penyiksaan terhadap dirinya.

“Kita di tanggal 27 Mei 2021, terpaksa masuk kerja. Karena adanya ancaman dari MR yang mengatakan bahwa jika saya tidak masuk kerja, maka rumah saya dan EEA akan didatangi dan dilempari oleh orang-orang suruhan MR. Karena takut, akhirnya saya terpaksa masuk kerja,” tuturnya.

Setelah AS datang ke PT. SGM dengan niat bekerja seperti biasanya pada Kamis, 27 Mei 2021, namun kejadian yang diluar dugaan AS malah terjadi. Yakni AS dipukul dengan penggaris besi dan punggung AS disayat oleh pisau Cutter bagian besi ujung tempat mata pisau keluar.

“Tanggal 27 Mei 2021 saya datang sekitar jam 09.00 WIB, dilakukan hal yang sama. Ditambah lagi ada pemukulan dengan penggaris besi dan penyayatan dipunggung saya dengan Cutter bagian besi ujung, tidak menggunakan pisau tajamnya. Sekitar jam 20.00 WIB malam terjadi penyiksaan lagi, saya dipukul berkali kali, sampai kemaluan saya diberi Balsam.”

“Setelah itu saya dibawa oleh IGa ke dua Bank untuk melakukan cetak rekening Koran. Kepada pihak Bank, IGa memaksa dengan mengaku sebagai orang utusan dari Kapolres Karawang dan saya dibilang oleh IGa sebagai terduga pelaku penggelapan uang,” ungkapnya.

Sementara itu, EEA membeberkan hal yang sama terkait penyiksaan yang dialaminya oleh ketiga Oknum atasan di PT. SGM.

“Kalau saya lebih ke pengancaman saja oleh MR di tanggal 24 Mei 2021. Di tanggal 25 Mei 2015 ada MR, IGa dan IGi mengancam saya akan disayat dan ditampar. Nah, di tanggal 27 Mei 2021 saya diancam akan ditelanjangi, disayat dan ditampar kalau saya tidak mengaku.”

“Terus saya dilempar dengan menggunakan botol air minum mineral 300mL dan juga dengan Lem kertas jenis Stick mengenai badan saya. Saya juga tidak bisa bergerak karena kedua lengan saya dipegang erat oleh IGi,” bebernya.

Parahnya lagi, menurut pengakuan AS dan EEA, bahwa orang tua mereka dipaksa datang malam harinya oleh MR yang bernita menjelaskan kepada orang tua mereka, jika AS dan EEA tetap dituduh menggelapkan uang perusahaan dan MR memaksa meminta surat rumah kepada orang tua AS dan EEA.

Padahal, ketiga Oknum tersebut sudah mengetahui keadaan Ibunda AS dalam kondisi sakit tidak bisa berjalan karena lumpuh. Namun ketiga Oknum tersebut tidak mau tahu dan bisa dibilang tidak punya prikemanusiaan dan tetap memaksanya untuk datang ke PT. SGM. Akhirnya kondisi Ibunda AS setelah mengalami kejadian tersebut, mengalami tekanan bathin dan pilunya lagi Ibunda AS meninggal dunia pada Rabu, 16 Juni 2021.

Akibat kejadian tersebut, AS dan EEA akhirnya bersama Kuasa Hukumnya Aldi Ferdian, S.H. (A.M.B.A.R LAW OFFICE), melaporkan kejadian tesebut ke Polres Karawang dengan harapan agar mereka mendapatkan keadilan. Laporan AS dan EEA diterima ditandatangani oleh KA SPKT u.b. Kanit I Aiptu Rohmat Hidayat, NRP 78050393, dengan nomor LP.B/718/V/2021/SPKT/POLRES KARAWANG/POLDA JAWA BARAT tertanggal 31 Mei 2021, Pukul 18.38 WIB.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, bahwa Oknum MR ini adalah anak dari seorang Anggota DPR RI Komisi VII berinisial MN dari Fraksi Partai Demokrat dan MR juga mempunyai kerabat atau saudara seorang Anggota DPR RI Komisi III.

Hal itu pun dibenarkan oleh Korban AS dan EEA, karena EEA pernah beberapa kali dimintai bantuan oleh MN terkait pengurusan tanda tangan beberapa dokumen tentang perjalanan dinas MN dalam masa Resesnya.

Sebagaimana yang digaungkan dan dijanjikan oleh Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo ketika menjalani fit and proper test atau uji kelayakan dan kepatutan di hadapan Komisi III DPR RI, pada Rabu (20/1/2021) lalu, Sigit menjanjikan, bahwa TIDAK BOLEH LAGI ADA HUKUM HANYA TAJAM KE BAWAH TAPI TUMPUL KE ATAS.
Terkait hal itu, Aldi Ferdian, S.H. dan Tim AMBAR LOW OFFICE, selaku kuasa hukum AS dan EEA berharap kepada Aparat Penegak Hukum (APH) khususnya pihak Polres Karawang yang notabene penerima laporan pengaduan Korban, segera bertindak sesuai dengan Hukum yang berkeadilan. Agar selaras degan janji Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yakni terkait penengakan hukum, yaitu TIDAK BOLEH LAGI ADA HUKUM HANYA TAJAM KE BAWAH TAPI TUMPUL KE ATAS. (SS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here