PURWAKARTA, Rajawalinews – Keindahan air mancur Taman Sri Baduga akan kembali terlihat saat malam tahun baru 2021.

Pasalnya,  air mancur Situ Buled ini sudah rusak dari tahun 2018 dan saat ini sedang dalam proses revitalisasi. Hal tersebut diungkapkan Kabid Pertamanan Dinas Ciptakarya dan Pemukiman, Engkos Kosasih kepada media Rajawli news, Senin (14/12/2020).

“Revitalisasi Air Mancur Taman Sri Baduga tahap kedua sedang dilakukan PT Telaga Pasir Kuta. Selain revatilasi ada penambahan pola air mancur dan pencahayaannya,” katanya.

Engkos menambahkan, keindahan akan terlihat dari sisi timur. “Oleh karena itu, kami sudah mengajukan Rp 10 miliar ke Pemda untuk penambahan dan penyempurnaan air mancur Taman Sri Baduga agar keindahannya dapat terlihat dari semua sisi,” tuturnya.

Pekerja pribumi

Proyek revitalisasi dan penambahan Air Mancur Taman Sri Baduga, Situ Buled, senilai Rp 4,796.531.000.00- dipenuhi pekerja lokal Purwakarta.

Saat pandemi covid 19 menimpa Purwakarta, banyak warga kesulitan mencari uang. Bahkan, banyak juga yang di PHK dari tempat kerjanya.

Walupun PT Telaga Pasir Kuta berasal dari Bandung, tetapi mereka peduli warga Purwakata.

Manager Operasional PT Telaga Pasir Kuta, Nana Diah Purnawati mengatakan, pekerjaan ini bukan proyek pribadi. “Sebagai pengusaha tentu kami harus mendapat keuntungan dari proyek ini. Tapi, bukan kami hanya saja yang diuntungkan. Warga pribumi juga harus merasa diuntungkan. Selain merekrut pekerja lokal Purwakarta, pedagang yang berada di sekitar proyek akan diuntungkan setelah pekerjaan ini selesai,” tuturnya.

Seperti diketahui, PT Telaga Pasir Kuta, Semarang sukses membangun Semarang Bridge Fountain. Tempat itu adalah air mancur menari pertama di Indonesia yang memanfaatkan sumber daya air sungai. Lokasinya di Jl. Jenderal Sudirman, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Pertunjukan dancing fountain yang indah itu bisa ditemui di Jembatan Kanal Banjir Barat yang tetap saja salah kaprah disebut Banjir Kanal Barat itu. Air dengan berbagai warna akan menari di sepanjang tepi kanan dan kiri jembatan.

Padahal sebelum ada bridge fountain, Jembatan Banjir Kanal Barat hanya sebuah jembatan penyebarangan biasa. Sepanjang jembatan itu hanya diterangi lampu jalan biasa.

Berasal dari bahasa Belanda yang artinya saluran banjir, Banjir Kanal Barat dulunya bernama “Bandjirkanaal”. Sistem drainase pertama di Semarang yang beroperasi pada 23 Januari 1879.

Sekarang, jembatan tersebut disulap sedemikian rupa oleh pihak Pemerintah Kota Semarang. Jembatan Banjir Kanal Barat jadi salah satu destinasi wisata yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Kota Semarang. (Sopyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here