Bekasi, Rajawalinews – Di masa pandemi corona yang belum tahu kapan berakhirnya, masyarakat terus di hantui rasa ketakutan, apalagi saat ini meningkat jumlah  Kasus yang terindikasi terpapar virus covid-19. Banyak cara upaya  pencegahan dan antisipasi yang di lakukan pihak pemerintah pusat, daerah dan desa dengan mensosialisasikan penggunaan masker, sering bercuci tangan, jaga jarak ( Social Distancing) serta Penyemprotan penyemprotan Desinfektan di  lingkungan masing masing. Status pandemi wabah corona yang di tetapkan oleh Badan kesehatan dunia WHO menjadi perhatian exstra seluruh negara di dunia  untuk melawan Corona.

Kabupaten Bekasi  salah satu wilayah kabupaten di Jawabarat yang berbatasan langsung dengan  DKI Jakarta, yang di mana kasus terkonfirmasi   Virus covid -19 di Jakarta tertinggi di Indonesia dan rentan masuk ke Kabupaten Bekasi. Miris di tengah pandemi  masih saja ada kejadian yang  merugikan warga masyarakat, oleh salah satu RS di bilangan Tambun Bekasi Jawa barat.

Kronologi bemula dari salah satu warga Tambun yang di rawat di RS tersebut masuk IGD pada tangal 14 /09/2020, sekitar  jam 01.00 Wib, di pindahkan ke ruang rawat Pada hari Kamis 17/09/2020.

Menurut keterangan dari salah satu anak Pasien ( Adit – red) mengatakan kepada awak media ” bahwa ada kejanggalan dalam pelayanan RS KM tersebut, pasalnya setelah pasien di pindahkan  ke lantai dua ruang isolasi, dan anehnya di ruangan isolasi tersebut saya dan keluarga boleh menunggu dan menemani Bapak saya ( pasien-red)  Dokter dan perawat pun tidak menggunakan APD ( Alat Pelindung Diri ).padahak pasien di curigai terindikasi dan Reaktif. Kami juga memohon kan kepada pihak RS untuk di lakukan SWAB, tapi sayang Bapak keburu meninggal, ungkap Adit.

Pasien meninggal pada Kamis malam 18/09/2020 sekitar pukul 11.30. Wib, pihak keluarga baru di kabari pada pukul 02.00 Wib, Semua menjadi pertanyaan kami, dari sebelum bapak  kami meninggal, di ruang isolasi dengan alasan akan di lakukan Sweb, kami tidak boleh menemani pasien  malah di suruh  pulang taunya kami di kabari sudah meninggal pukul 02.00, padahal meninggalnya pukuk 11.30, terang Adit, kepada wartawan.

Lanjut Adit, Kami pihak keluarga sangat menyayangkan dengan pelayanan RS KM itu, dengan membiarkan kami dan ibu kami sekeluarga masuk ke ruangan isolasi, sedang kan menurut pihak RS pasien di curigai indikasi Suspet. Ketika pihak keluarga menanyakan hasil  akurat dan kevalidannya, Kenapa setelah meninggal baru Di Swab, dan tidak dari awal masuk RS dilakukan Swab, sehingga pihak keluarga tahu hasilnya, dan bisa memakamkan almarhum bapak saya dengan sebagaimana mestinya dan bisa mensholatkan serta kami urusi jenazah orang tua kami layak nya orang meninggal dalam agama islam, tutur Adit.

Lebih lanjut Adit memaparkan, setiap kejadian  kepada awak media, ” Dalam hal pemakaman pun ada terlihat kejanggalan, jenazah hanya di pakaikan kantong plastik, klo memang terindikasi covid pasti menggunakan peti, dan para penguburpun tidak menggunakan APD, dari pihak keluarga tidak boleh mendekat, jenajah bapak Kami pun seolah olah seperti sampah dilempar ke tanah, Kami sangat miris melihatnya, dengan proses pemakaman bapak kami, tutur Adit lirih.

Pasca pemakaman almarhum Bapak kami, mengundang seribu pertanyaan dalam pihak keluarga, akhirnya kami meminta pejelasan kembali ke pihak RS hasil Sweb almarhum bapak kami , di dampingi awak media akhir nya kami mendapatkan bahwa hasil Swab nya “Negatif” jelas Adit.

Awak media pun berhasil memperolah keterangan dan tanggapam dari Dr. Alamsyah selaku Gugus tugas Percepatan Penanganan Covid -19 Kabupaten Bekasi, melalui  Pesan Wassaapnya, Dr Alamsyah mengatakan” Saya Klarifikasi dulu , lewat Kasie rujukan , Sekalian juga gali info ke RS.

Dan berikut jawaban pihak RS KM 2 Kepada Dr.Alamsyah, :
Dok dari RS Karmed 2:
Pasien masuk tgl 8 September dengan TB Paru dan Pleural Effusion, di lakukan fungsi pleural dan rafid test reactif lGg, perbaikan dan di lakukan sweb, pagi ini meninggal dunia hasil Swab belum keluar, RS sudah minta maaf ke keluarga Pasien, Karena membolehkan keluarganya keluar masuk ruangan dan keluarga setuju  di makam kan mengikuti protokol covid. Kami sudah tegur untuk perbaikan, Ucap Dr.Alamsyah dalam pesan Wasapp nya ke awak media.

Sabtu 19/09/2020, keluarga pasien di dampingi awak media mengunjungi RS untuk meminta kejelasan terkait beban sosial yang di alami pihak almarhum dan keluarga sampai sampai menjadi trauma.

Sempat terjadi keributan kecil  antara awak media ( Wartawati Lensa hukum ) dengan salah satu Dr.RS KM 2 ( Dr.Y),  ketika wartawan hendak konfirmasi dan bertemu dengan pihak RS , namun tampak di area awak media melihat ada beberapa tidak menggunakan masker, ( protokol kesehatan) lalu wartawan menayakan standar protokol kesehatan yang tidak di terapkan di RS tersebut,  dan saat itu ada  Dr y dan mengatakan “wartawan  ujung ujungnya duit”.

Hal itu pun di klarifikasi saat itu juga bahwa Dr.Y meminta maaf, karena Saya dalam keadaan lelah sehingga tak tercontrol. Namun tetap saja awak media sangat kecewa terkait kejadian tersebut.

Senin 21/09/2020 pihak kelurga dan awak media kembali mendatangi pihak RS KM 2, dan di terima oleh Direktur RS KM 2 dalam pembicaraan tertutup pihak keluarga tetap mempertanyakan pelayanan dan historis pasien masuk nya ke RS sampai meninggalnya, namun pihak RS meminta waktu sampai Kamis kedepan untuk memberikan Historis serta rekam medis paisen ke pihak keluarga. Dan pihak kelurga akan menempuh jalur hukum jika kejadian ini jika ada di duga ada manipulasi data  dan terindikasi merugikan keluarga pasien dan masyrakat.

Sementara Pihak RS enggan berkomentar. W mengatakan ” itu kompeten nya Direktur Kami tidak bisa menjawab atau memberikan tanggapan, Ucap W selaku Humas RS tersebut. ( h madi/way )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here