PURWAKARTA, Rajawalinews.- Pihak Dinas Binamarga belum bisa menjawab saat ditanyakan perihal siapa yang bertanggungjawab atas ambruknya jembatan Bodem Desa Cijunti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta.

Rubuhnya jembatan yang dibangun tahun 2015 itu menewaskan ibu rumah tangga bernama Rohayati (40). Ia saat itu sedang melintasi jembatan itu dengan suaminya bernama Rahman (45) warga Kp. Cihambulu, Desa Kampung Tugu Subang.

Korban terluka lainnya adalah Sarman warga Cijunti umur 30 tahun, Jaja umur 45 tahun warga Cijunti dan Wahri umur 10 tahun warga Cijunti. Semuanya sedang melintasi jembatan itu.

Pertanyaan tersebut dilontarkan wartawan saat jumpa pers di aula Kantor Binamarga, Senin (6/9/2020). Sebab, dugaan perencanaan awal pembangunan jembatan yang tidak tepat, ditambah pekerjaan oleh pihak penyedia jasa tidak sesuai spek membuat jembatan tidak bertahan lama.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Kepala Dinas PU, Binamarga dan Pengairan Pemkab Purwakarta Ryan Octavia tampak kaget. Ia mengaku,  semuanya masih dalam penelitian Pusjatan.

“Jangan menghakimi dulu, karena masih dalam penelitian, katanya.

Ryan menjelaskan, kondisi tanah di sekitar jembatan labil. Menurut informasi dari masyarakat sering terjadi luapan sungai Ciherang yang membuat kondisi tanah terkikis.

“Awal Januari 2020 terjadi longsor di tepi jembatan dan awal Maret diperbaiki. Akhirnya jembatan ambruk saat hujan deras,” katanya.

Menunggu hasil Pusjatan untuk mengetahui penyebab ambruknya jembatan. Selanjutnya, kami akan melakukan studi kelayakan. Apa tetap disana (Desa Cijunti) atau dipindahkan,” ujarnya.

Ketika disinggung siapa penyedia jasa jembatan Bodem, Ryan mengatakan singkat. “CV Karya Indah,” katanya. (vans)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here